Tanda-Tanda Gereja

This post was written by Ujun Junaedi

10. Sep, 2010 13 Comments

Definisi:

Merupakan kelompok kata sifat yang mencirikan sebuah gereja. Kelompok kata tersebut adalah esa, kudus, katolik (am) dan apostolik (rasuli). Dalam teologi Protestan kelompok kata ini disebut atribut gereja.

Makna:

Tanda-tanda gereja digunakan untuk mendeskripsikan kayakinan iman umat Kristen. Tanda-tanda ini disahkan dalam Konsili Konstantinopel pada tahun 381. Kata esa atau satu memiliki makna bahwa gereja didirikan Allah sebagai persekutuan yang mengaku kepada satu Allah, satu Tuhan dan satu baptisan, sehingga dapat diartikan bahwa gereja itu satu. Kata kudus memiliki arti bahwa gereja dikhususkan untuk Allah. Kata kudus bukan berarti suci, bebas dari dosa atau dari luput kesalahan, melainkan memiliki arti bahwa gereja dikhususkan atau dispesialisasikan hanya untuk Allah. Kristus sendiri yang telah menguduskan gereja. Dengan demikian, gereja itu kudus. Kata katolik atau am memiliki makna universal. Universal berarti gereja bukan hanya mencakup satu hal saja, tetapi mencakup berbagai kemajemukan (bangsa, suku, ras, bahasa, dll.). Hal itulah yang dapat menyimpulkan bahwa gereja adalah katolik atau am. Kata apostolik (Yunani, apostolos = rasuli) memiliki makna bahwa gereja ada atau dibentuk berdasarkan kepada kesaksian para rasul mengenai Yesus Kristus dari masa ke masa sepanjang sejarah. Dengan demikian, gereja itu apostolik atau rasuli. Tanda-tanda gereja ini tercantum dalam pengakuan iman Nicea Konstatinopel sehingga pengahayatan akan tanda gereja selalu dirasakan ketika mengikrarkan pengakuan iman ini.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Add to favorites
  • PDF
  • RSS
  • Twitter

No related posts.

13 Responses to “Tanda-Tanda Gereja”

  1. ujun,apa artinya via notarum, via historica, via empirica serta arti gereja katolik yang apostolik??serta apakah pernyataan (Kami percaya) dalam satu, kudus, Katolik, dan Apostolik masih berlaku di dalam agama katolik???

  2. Ada tiga tanda Gereja yang benar yaitu
    1. Jika firman Allah diberitakan dengan
    benar (ansih)
    2.jika sakramen Baptisan Kudus dan
    sakramen Perjamuan Kudus dijalankan.
    3. Jika siasat Gereja (hukum gereja
    dijalankan).dengan benar.

  3. haii uju,,
    aku mau nanya uju,,,
    mengenai perpecahan itu,,,
    apakah perpecahan itu berakhir sampai disitu atau berlanjut terus sampai abad ke 15 dan 16 ?????

    apa yang menyebabkan sehingga kresten sebelah timur itu terbelah?????

    dan,,,,

    kresten sebelah timur itu apa sih …?????

  4. Ujun, dalam definisi anda menyebutkan bahwa tanda-tanda ini “digunakan untuk menjelaskan tanda atau karakteristik pembeda dari Gereja Katolik”. Lalu apakah dalam Katolik ada juga tanda-tanda gereja mereka sendiri?? Terima kasih sebelumnya.

    • ia ujun,,,

      bisa nga dirincikan lagi gitu ..???

      cory ujun …
      terima kasih yah…….

    • Ghe, Maksud kata ‘pembeda’ dalam definisi tersebut adalah kata katolik itu sendiri. Jadi dalam protestan tidak digunakan kata katolik, melainkan kata ‘am’. Nah, kalo di dalam agama Katolik, tentu saja digunakan kata ‘Katolik’.
      Tanda-tanda gereja ini bukan dikhususkan untuk gereja Katolik saja. tapi untuk semua gereja, lebih spesifik lagi gereja-gereja yang mengakui dan menganut Pengakuan Iman Nicea Konstatinopel.
      Trims. Hehehehe

  5. hi ujun….
    aq mau tanya…
    apa sih yang dimaksud Nicea Konstatinopel?

    sory…n thx

  6. apakah tanda gereja hanya dirasakan ketika kita mengikrarkan iman saja???????kalo tidak,,tlong kasih contoh .thx

  7. Dalam pengakuan Iman Rasuli, umat Kristen Protestan mengaku “… gereja yang kudus dan am.”
    Apa bedanya dengan Pengakuan Iman Rasuli umat Katolik “…gereja Katolik yang kudus.” ?

  8. Tulisan yang baik ujun. Pertahankan.

  9. Baik sekali. di dalam gereja2 protestant muncul beberapa notae ecclesiae (tanda-tanda gereja) yang lain, seperti diberitakannya firman dan dilayankannya sakramen. namun keempat tanda di atas yang sudah anda sebut memang lebih kuna.

  10. Shalom,

    Sharing sedikit ya mgn topik ini sbg pembelajaran bagi yg tertarik sejarah Gereja Katolik dan Gereja Orthodox.

    Pertama- tama harus dipahami terlebih dahulu hal apa yang memisahkan antara gereja yang menamakan diri sebagai gereja Katolik Orthodox Chalcedon (Kalsedon), dengan Gereja Katolik.

    Namun sebelumnya mari kita lihat dahulu apa sebenarnya yang disebut Gereja-gereja yang mengikuti ajaran Kalsedon dan mana yang tidak. Untuk itu mari melihat pada sejarah Gereja:
    1. Konsili Kalsedon pada tahun 451
    Kita ketahui dari sejarah bahwa di abad- abad awal telah terdapat ajaran- ajaran yang berusaha untuk menyederhanakan misteri ke-Tuhanan dan kemanusiaan Yesus, pada saat Ia menjelma menjadi manusia.
    Ajaran- ajaran sesat tersebut, memberikan pengajaran yang terlalu menekankan sisi ke-manusiaan Yesus, sehingga mengatakan Yesus bukan Tuhan; atau sebaliknya menekankan sisi ke-Tuhanan Yesus sampai ‘menelan’ sisi kemanusiaan-Nya, sehingga Yesus dianggap bukan sungguh manusia. Atau, ada pula ajaran yang mencampur adukkan kedua kodrat ini.
    Nah untuk meluruskan hal ini, para uskup berkumpul pada konsili Kalsedon (451), yang menetapkan bahwa pada saat penjelmaan-Nya, Yesus mempunyai dua kodrat, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia, yang keduanya bersatu secara hypostatik: artinya masing- masing dapat mempunyai ciri- cirinya sendiri, tidak dapat dicampuradukkan, tidak terpisahkan, dan tidak terbagi- bagi.
    Konsili Kalsedon sekaligus mengecam ajaran- ajaran sesat Nestorius (yang memisahkan kedua kodrat dalam diri Yesus), Arians (yang menolak ke-Tuhanan Yesus), Monophysites (yang mengatakan bahwa keilahian dan kemanusiaan Yesus tergabung dalam satu kodrat), dst.
    Setelah Konsili Kalsedon, terdapatlah dua kelompok besar dalam Kristianitas, yaitu mereka yang menerima pengajaran Konsili Kalsedon; yang disebut Chalcedonian Christianity, yaitu gereja- gereja dalam persekutuan dengan Gereja Katolik Roma, Gereja Konstantinopel dan Gereja Orthodox Yunani (Alexandria, Antiokhia dan Yerusalem). Sedangkan gereja- gereja yang menolak Konsili Kalsedon bergabung dalam gereja yang menyebut diri sebagai gereja Orthodox Oriental, termasuk di sini gereja- gereja Armenia, Syria, Koptik dan Ethiophia.
    Menarik untuk dilihat bahwa kata ‘Orthodox’ itu sama- sama diklaim oleh gereja- gereja Timur yang menerima pengajaran Konsili Kalsedon dan juga oleh gereja-gereja yang menolak ajaran Kalsedon. Maka, sesungguhnya kita dapat bertanya, manakah yang benar- benar ‘orthodox’/ ‘lurus’ di sini. (informasi tambahan: Kata Ortho= Lurus, benar. Doxa= Aliran, doktrin, Jadi Orthodoxa = Aliran yang lurus. Benar).

    2. Gereja- gereja Orthodox Yunani = gereja- gereja Timur Orthodox.
    Gereja- gereja Timur Orthodox ini menerima hasil Konsili Kalsedon (451) namun mereka tidak menerima otoritas Bapa Paus. Oleh karena itu, walaupun gereja -gereja Timur Orthodox menyebut diri mereka sendiri sebagai Gereja Katolik Orthodox, namun mereka sesungguhnya tidak tergabung secara penuh dengan Gereja Katolik (meskipun mereka menerima ketujuh Konsili yang dilakukan dari abad ke-4 sampai ke-8).
    Menarik untuk diketahui bahwa penolakan akan otoritas Paus ini baru efektif berlangsung setelah skisma di tahun 1054, sebab sebelumnya Bapa Paus di Roma tetap diakui sebagai uskup/ penatua jemaat yang pertama di antara para uskup lainnya/ “first among equals“.

    3. Pemisahan antara Gereja Orthodox dan Gereja Katolik di tahun 1054.
    Sebenarnya pemisahan ini bukan disebabkan oleh suatu kejadian sesaat, tetapi karena akumulasi dari banyak kejadian, yang memang telah bertubi- tubi terjadi melanda Gereja Timur (dengan pusatnya Konstantinopel) dan Barat (Roma). Harap diketahui bahwa di abad-abad awal, banyak ajaran sesat yang terjadi di Gereja- gereja Timur (Arianisme, Nestorian, Apolloniarism, Monophysites, Ebionite, Monothelistism, dst), meskipun daerah tersebut lebih ‘dekat’ dengan tempat asal Kristus dan para rasul. Gereja Roma, yang dipimpin oleh penerus rasul Petrus selalu tampil sebagai penegak doktrin, jika terjadi semacam kesimpangsiuran pengajaran. (Ini sesungguhnya merupakan penggenapan dari Sabda Allah, bahwa Paus yang berbicara atas nama Rasul Petrus, melakukan kuasa “mengikat dan melepaskan”, dan Tuhan menjanjikan bahwa apa yang ditetapkannya tidak mungkin salah/ tidak mungkin dikuasai oleh maut Mat 16:18-19). Namun, kenyataannya, hal ini sedikit banyak memicu adanya semacam ‘persaingan’ politis antara Gereja Timur dan Barat. Selanjutnya, Gereja Timur ingin memasukkan pengaruh bahasa/ budaya Yunani, sedangkan Gereja Barat, budaya Latin.
    Persaingan ini mencapai puncaknya pada dua hal. Pertama, tentang hal ‘Filioque‘.
    Kedua, tentang hal “roti tak beragi”. Ketika pasukan perang salib dimulai tahun 1090, para patriarkh Byzantin yang singgah di Konstantinopel menyerang gereja- gereja Latin yang sudah ada di sana sejak jaman kaisar Konstantin. Mereka mengatakan bahwa Ekaristi mereka tidak sah karena menggunakan roti tidak beragi,-sesuatu yang memang telah dilakukan oleh Gereja Barat, dan Gereja Armenia sejak awal, untuk mengikuti teladan Kristus yang menggunakan roti tak beragi pada Perjamuan Terakhir. Namun para patriarkh Byzantin itu (dipimpin Michael Cerularius) ingin memaksakan ritus Byzantin -yang menggunakan roti beragi untuk perjamuan- kepada umat Roma yang tinggal di Konstantinopel tersebut. Cerularius membuka tabernakel dan membuang Hosti yang sudah dikonsekrasikan itu ke jalan. Oleh sebab itu, Gereja Roma kemudian mengecam tindakan patriarkh Cerularius tersebut. Setelah kejadian itu, Gereja Roma mengutus delegasi yang dipimpin oleh Cardinal Humbertus untuk mengusahakan perdamaian. Namun sayangnya, karena faktor kelemahan manusia (dalam hal ini emosi yang meledak- ledak dari kedua belah pihak), perundingan diakhiri dengan ekskomunikasi dari kedua belah pihak kepada kedua belah pihak; sesuatu yang berakibat terlalu jauh dan sebenarnya tidak diinginkan oleh kedua belah pihak. Sebab ekskomunikasi itu sebenarnya hanya berlaku terhadap sang individu, dan bukan terhadap semua orang dalam komunitas.
    Berikut ini adalah kutipan deklarasi yang disetujui bersama antara Paus Paulus VI dengan Patriarkh Konstantinopel Athenagoras I (1965):
    Among the obstacles along the road of the development of these fraternal relations of confidence and esteem, there is the memory of the decisions, actions and painful incidents which in 1054 resulted in the sentence of excommunication leveled against the Patriarch Michael Cerularius and two other persons by the legate of the Roman See under the leadership of Cardinal Humbertus, legates who then became the object of a similar sentence pronounced by the patriarch and the Synod of Constantinople.
    Thus it is important to recognize the excesses which accompanied them and later led to consequences which, insofar as we can judge, went much further than their authors had intended and foreseen. They had directed their censures against the persons concerned and not the Churches. These censures were not intended to break ecclesiastical communion between the Sees of Rome and Constantinople. (terjemahannya: …. ekses- ekses yang mengikutinya dan sesudahnya mengarah kepada akibat- akibat yang, menurut hemat kami, pergi jauh dari apa yang dimaksud dan diduga oleh para pengarangnya [dalam hal ini Cerularius dan Kardinal Humbertus yang diutus oleh Paus]. Mereka mengarahkan sangsi kepada orang- orang yang terlibat dan bukan kepada Gereja- gereja. Sangsi ini tidak dimaksudkan untuk memecahkan persekutuan antara Tahta Suci Roma dan Konstantinopel.”

    KESIMPULAN: Gereja ‘Katolik’ Orthodox Kalsedon tidak berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, dan karena itu keduanya tidak sama. Perbedaannya, gereja Orthodox tidak mengakui otoritas Bapa Paus. Gereja Orthodox ini tidak sama dengan ke-22 Gereja- gereja Timur yang ada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik.

    Namun meskipun Gereja- gereja Orthodox tersebut tidak berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, mereka mempunyai hubungan yang erat dengan Gereja Katolik, sebab mereka juga mengakui ketujuh sakramen, dan mempunyai jalur apostolik. Dalam kondisi darurat (misalnya karena di ambang maut), seseorang dari gereja Orthodox dapat meminta imam dari Gereja Katolik agar memberikan sakramen Minyak suci (Urapan orang sakit), Ekaristi dan Pengakuan dosa.

    Demikian yang dapat saya sampaikan untuk sharing kita..semoga bermanfaat.

    Salam kasih dalam Kristus Tuhan,

    *Diambil dari situs katolisitas.org*

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Rss Feed Tweeter button Facebook button